Jerit lirih di tepi ranjang
Sembab mata lusuh pikiran
Tersaji saat pagi merayapi siang
Dalam pekik ratap penuh keletihan
Yang harus merelakan tubuhnya di gerayangi si hidung belang
Sebuah takdir ataukah kebetulanSembab mata lusuh pikiran
Tersaji saat pagi merayapi siang
Dalam pekik ratap penuh keletihan
Yang harus merelakan tubuhnya di gerayangi si hidung belang
Jalani hidup penuh caci makian
Terhujat penuh hinaan
Karena nasip yang tak sepadan
Pernah kau tanya mengapa????........
Tuk menghidupi ke-3 putrinya yang masih balita
Ditinggal suami tanpa kata dan harta
Pergi ke kota ingin bekerja
Dijual pula oleh si laknat durja
Dalam rintihnya
Menggenang telaga air mata
Membisikan sebuah kata
Maafkan bunda anaku
Jangan pernah ikuti jejak ibumu
Carilah pandai agar tak di bodohi
Tunggu bunda pulang bersama pahlawan
Yang tlah selamatkan kita dari api neraka
Terima dia sebagai ayahandamu dan kita mulai lembaran baru
Dalam rengkuhan kasih dan ridho ALLAH
Blitar, 240412
Tidak ada komentar:
Posting Komentar